Kamis, 07 Mei 2009

Perihal Do'a

Di dalam beribadat kepada Allah Subhana wa Ta'ala, do'a adalah satu amalan yang penting sekali. Sembahyang itu sendiri pun adalah do'a. Sejak mulai kita mengucapkan Takbiratul-Ilham (Allahu Akbar) kita mulai menghamparkan sayap harapan kepada Tuhan dengan mengakui kecilnya diri kita sendiri di hadapan Ilahi; Malahan seluruh alam ini pun menjadi kecil belaka. Maka fikiran dan ingatan kita manusia yang kecil ini pun dihimpunkanlah kepada Yang Maha Besar.
Lantaran pentingnya do'a, bertebaranlah di dalam Al Qur'an sendiri do'a dari Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah: do'a Nabi Adam, do'a Nabi Nuh, do'a Nabi Ibrahim, do'a nabi Yunus, do'a Nabi Luth, do'a Nabi Yusuf, do'a Nabi Musa dan do'a Nabi-nabi yang lainnya. Kemudian daripada itu terdapatlah di dalam catatan hadist-hadist Nabi Muhammad SAW tentang do'a-do'a beliau sendiri dan do'a yang beliau ajarkan kepada sahabat-sahabatnya, kepada istrinya dan juga kepada putrinya.
Oleh sebab itu, untuk memperdekat diri kita kepada Tuhan, seyogianya pula kita memakai do'a-do'a itu, dapat hendaknya kita menghapalnya buat menentramkan hati kita.
Sabda Nabi tentang kepentingan do'a
Dalam satu hadits Nabi berbunyi:
"Do'a itu adalah ibadah. Itulah sabda Nabi Muhammad SAW. Lalu beliau baca firman Tuhan (Tersebut di dalam Surat Al Mu'min, surat ke-40; ayat 60), "Dan berfirman Tuhan. Serulah Aku, niscaya akan Aku perkenankan bagi kamu. Sesungguhnya orang yang merasa sombong dari beribadat kepadaku, akan masuklah mareka ke dalam neraka jahanam dalam keadaan yang hina." (Hadist ini dirawikan oleh Ibnu Hibban. Dan dirawikan juga oleh At-Tarmidzi dan perawi-perawi hadist yang lain, diterima dari sahabat Rasulullah SAW, Nu'man bin Basyir r a).
Dalam hadits ini dinyatakanlah bahwasanya do'a itu sendiri sudah boleh dikatakan ibadat, atau termasuk ibadat, atau yang semulia-mulia ibadat. Karena apabila kita telah berdo'a berarti kita telah mengakui kerendahan dan kehinaan diri kita di hadapan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia tempat kita bermohon.
Dalam satu hadits Nabi yang lain berbunyi:
"Do'a itu adalah otak dari ibadat." (Ibnu Hibban, At-Tarmidzi).
Dalam sabda yang pertama Nabi mengatakan bahwa do'a itu sendiri sudah termasuk ibadat, dan dalam sabda yang kedua dikatakan pula bahwa ibadat yang tidak disertai dengan do'a sama artinya dengan tidak ada otaknya, tidak ada benaknya. Kosong isinya. Karena tidak timbul dari hati sanubari sendiri perasaan ketundukan kepada Tuhan. Malahan di dalam ayat yang telah disebutkan dalam rangkaian hadits tadi dikatakan bahwa orang yang tidak suka berdo'a itu adalah orang yang sombong.
*sumber dari buku "Doa-Do'a Rasulullah", karya Prof. Dr. Hamka, Penerbit Pustaka Panjimas Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar